DIGITALISASI PROJEK LITERASI P5 TEMA KEARIFAN LOKAL

ARTIKEL FEATURE TEMA KEARIFAN LOKAL

“MENGUNGKAP KEKAYAAN BUDAYA NUSANTARA : KISAH PETUALANGAN SEKELOMPOK SISWA MENYUSURI MUSEUM RADYA PUSTAKA SURAKARTA”

Ketika langkah kaki melintasinya, Museum Radya Pustaka, sebuah monumen sejarah di tengah hiruk – pikuk Kota Surakarta, menyimpan ribuan cerita yang menunggu untuk diungkap. Dalam rangka kegiatan kunjungan Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tema kearifan lokal, kelompok III kelas X. 11 SMA Negeri 1 Surakarta memutuskan untuk berpetualang menjelajahi museum ini, dan apa yang ditemukan sungguh melebihi ekspektasi.

 

Pada hari Sabtu, 28 Oktober 2023, derap langkah demi langkah anak – anak siswa SMA Negeri 1 Surakarta melintasi sepanjang jalan di Taman Sriwedari Surakarta. Sekelompok siswa tersebut ternyata tengah melakukan eksplorasi dan identifikasi guna mengungkap kearifan lokal yang ada di wilayah Kota Surakarta. Museum Radya Pustaka, sebuah museum yang terletak di jantung Kota Surakarta, yang kaya akan sejarah. Ketika masuk ke dalam museum, seakan – akan seperti melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Terdapat sejumlah artefak bersejarah yang membawa kembali ke suasana zaman kerajaan. Di sini, terdapat juga berbagai koleksi yang menggambarkan kekayaan budaya Jawa, mulai dari wayang kulit, batik klasik, hingga lontong cap go meh yang masih disimpan dengan baik.

Sesaat memasuki halaman museum, sekelompok siswa tersebut disambut oleh kurator museum yang siap memandu mereka untuk melakukan eksplorasi. Museum Radya Pustaka adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Slamet Riyadi Surakarta dan berlokasi tidak jauh dari Taman Sriwedari. Museum ini didirikan oleh Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV pada 18 Oktober 1890, dan dinobatkan sebagai museum tertua di Indonesia. Sebelum menjadi sebuah museum, dulunya tempat ini merupakan kediaman milik seorang warga negara Belanda yang bernama Johannes Busselaar. Oleh karenanya, museum ini memiliki nama lain yaitu sebagai Loji Kadipolo. Museum Radya Pustaka dikelola di bawah kebijakan Pemerintah Daerah Kota Surakarta, yang telah memiliki status sebagai yayasan. Saat ini Museum Radya Pustaka telah berganti nama menjadi Yayasan Paheman Radya Pustaka Surakarta, dan dibentuk sejak tahun 1951.

 

Jika menelisik sejarah awalnya, Radya Pustaka yang merupakam museum tertua di Indonesia ini bergerak dalam pengetahuan sastra dan budaya, tertama budaya Jawa dan pengembangan ilmu Jawa di Indonesia. Mengacu pada pustaka yang memiliki makna buku atau kitab, tujuan didirikannya Radya Pustaka adalah untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat umum untuk belajar dan membaca buku-buku baik berupa Serat Jawa maupun buku berbahasa Belanda. Museum ini memiliki koleksi 400 buku jawa kuno yang merupakan naskah hasil tulisan tangan sebelum ditemukan mesin ketik. Naskah yang berisi kekayaan budaya jawa ini umumya menceritakan tentang tata kehidupan dan cara berpikir masyarakat dalam menjalani kehidupan. Sejumlah karya sastra Babad dan Serat yang tergolong sebagai masterpiece ini ditulis dalam aksara jawa, namun ada beberapa yang sudah dicetak melalui pengalihaksaraan latin. Selain itu juga terdapat ribuan eksemplar buku-buku lama berhuruf jawa namun dalam bentuk cetakan cap.

Museum ini memiliki koleksi 400 buku jawa kuno yang merupakan naskah hasil tulisan tangan sebelum ditemukan mesin ketik. Naskah yang berisi kekayaan budaya jawa ini umumya menceritakan tentang tata kehidupan dan cara berpikir masyarakat dalam menjalani kehidupan. Sejumlah karya sastra Babad dan Serat yang tergolong sebagai masterpiece ini ditulis dalam aksara jawa, namun ada beberapa yang sudah dicetak melalui pengalihaksaraan latin. Selain itu juga terdapat ribuan eksemplar buku-buku lama berhuruf jawa namun dalam bentuk cetakan cap.

 

Selain serat tertua Yusuf yang ditulis tahun 1729, terdapat pula turunan serat Centhini (amargi serat ingkang asli sumimpen ing Sanapustaka Kraton Surakarta). Meski hanya copy-an, naskah Centhini merupakan jantungnya Radya Pustaka. Satu koleksi yang bisa mewakili keindahan museum ini. Ditulis dari seorang figuran bernama asli Tembangraras, Centhini sendiri merupakan abdi (pelayan) dari istri Syaikh Among Raga yang merupakan keturunan Sunan Giri. Serat Centhini yang ditulis oleh jurnalis Tembangraras tersebut terukir dalam bentuk tembang (puisi jawa) dengan kaca 3.500 dan terbagi dalam 12 jilid. Memuat semua unsur kebudayaan masyarakat mulai dari pemerintahan, geografis, hingga kegiatan sehari-hari . Dapat dikatakan sebagai ensiklopedia Jawa yang secara garis besar menceritakan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri yang berasal dari Gresik Jawa Timur. Ditulis pada tahun 1814-1823 atas inisiatif Adipati Anom Amangkunegara atau PB V.

Melalui Serat Centhini ini pula kita menyingkap tabir dari tempe. Tempe yang baru ditetapkan sebagai warisan budaya bangsa pada 2017 ini ternyata sudah muncul sejak abad ke 16 atau tahun 1600 an. Memahami tempe dari sisi filologi (Philos: teman atau cinta; Logos: kata, ilmu) kita menemukan istilah Tumpi dari bahasa Jawi Kuno yang bermakna sebuah makanan terbuat dari sagu namun menyerupai tempe. Terdapat pula penggambaran perjalanan Cebolang dari Purbalingga menuju Mataram yang membahas dhele (kedelai) dalam sebuah ritual atau acara. Sebagai catatan, untuk membaca naskah harus melalui perizinan dari UPT Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta (@uptmuseum_surakarta).

 

Tidak hanya menyajikan manuskrip kuno, museum ini juga memiliki beberapa koleksi seperti Canthik Rajamala yang merupakan bagian depan perahu dan perwujudan dari tokoh wayang Rajamala, ratusan koleksi wayang berbagai jenis, satu set gamelan slendro pelog peninggalan K.R.A Sosrodiningrat IV, pawukon/ petung (perhitungan) yang menggunakan sistem pertanggalan tradisional Jawa, arca batu yang memahatkan kecantikan Durga Mahesasura Mardhini, arca perunggu peninggalan masa Hindu Buddha abad ke-7, dan sajian perangkat makan keramik dari keraton Surakarta, Mangkunegaran, dan Eropa.

Museum Radya Pustaka merupakan museum bersejarah yang menyimpan cerita masa lalu yang berkaitan dengan Kota Surakarta, seperti naskah – naskah perjuangan dan naskah – naskah peninggalan kerajaan. Museum ini memiliki banyak koleksi yang berkaitan dengan kerajaan – kerajaan di Indonesia, seperti Kerajaan Majapahit, Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram, dan Kerajaan Demak. Koleksi – koleksi peninggalan tersebut berupa tulisan, sastra, patung, dan peninggalan lainnya yang bertuliskan Sansekerta dan huruf Palawa.

 

Salah satu hal yang paling mengesankan adalah koleksi pusaka yang disimpan di dalam museum. Ada keris-keris pusaka dengan hiasan yang memukau, dan masing-masing memiliki cerita unik. Penjaga museum dengan senang hati menceritakan kisah-kisah dibalik setiap pusaka ini, menambahkan nuansa misteri yang membuat kunjungan ini semakin menarik. Selain itu, di serambi bangunan museum juga terdapat banyak sekali meriam beroda, yang merupakan peninggalan dari masa kebijakan VOC pada abad ke-17 hingga abad ke-18. Tidak hanya itu, di bangunan museum ini juga terdapat banyak sekali meriam berukuran kecil yang berasal dari peninggalan Keraton Kartasura. Ditambah lagi di bangunan museum ini juga terdapat peninggalan bersejarah berupa arca – arca berbentuk Hindu dan Buddha, Arca Siwa, dan Roro Jonggrang. Kemudian, Museum Radya Pustaka juga mempunyai banyak sekali koleksi yang terdiri dari pusaka adat, arca, buku – buku kuno seperti buku Wulangreh karangan Pakubuwono IV, dan wayang kulit. Museum ini juga memiliki peninggalan lain yang berskala nasional hingga internasional, seperti peninggalan tentang perjuangan pemuda tanah Jawa dalam mempertahankan kemerdekaan dan peninggalan koleksi kotak musik yang berasal dari Perancis dengan berhiaskan bunga yang menancap di antara burung – burung kecil. 

Hal yang menarik dari Museum Radya Pustaka adalah karena bangunan ini merupakan bangunan museum yang tertua di Indonesia. Tak hanya itu saja, banyaknya peninggalan – peninggalan bersejarah yang masih terjaga keasliannya dan masih terawat hingga saat ini. Selain itu, cerita sejarah dibaliknya menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi oleh wisatawan dari dalam maupun luar daerah. Meskipun Museum Radya Pustaka tidak memiliki kafe, kunjungan kami masih penuh hiburan. Museum ini tidak hanya menghadirkan informasi sejarah yang kering, tetapi juga menampilkan video dokumenter yang menjadikan pengalaman kami semakin berwarna. Kami juga memiliki kesempatan untuk bersantai di taman yang dikelilingi oleh patung-patung sejarah, menikmati ketenangan dan keindahan alam di tengah hiruk-pikuk kota.

 

Kunjungan ke Museum Radya Pustaka juga merupakan upaya untuk memahami makna sebenarnya dari kearifan lokal. Di sini, para kurator museum memberikan pengajaran tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan nilai-nilai tradisional. Hal ini sesuai dengan tema P5, yang menekankan pentingnya memahami dan menghormati nilai-nilai Pancasila, yang juga sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai lokal.

Kunjungan ke Museum Radya Pustaka di Kota Surakarta benar-benar menggugah rasa, mengingat pentingnya menjaga kearifan lokal dan warisan budaya. Museum ini adalah bukti hidup bahwa masa lalu yang kaya dan cerita-cerita nenek moyang kita memiliki tempat istimewa. Kunjungan ini adalah perjalanan tak terlupakan yang akan selalu menjadi inspirasi untuk lebih mendalami Pancasila dan kekayaan budaya lokal khususnya wilayah Kota Surakarta. 

Lebih lengkap mengenai artikel feature lainnya, silahkan klik judul berikut :

NASKAH BUKU ONTOLOGI TEMA KEARIFAN LOKAL  

Karya Majalah Dinding (Mading)